Archive for Tokoh² Islam

malik bin dinar

Imam Malik bin Dinar mengajari kita dalam bagian ini tentang seorang pemuda kecil di waktu haji, dengan bertutur, ‘Ketika kami mengerjakan ibadah haji, kami mengucapkan talbiyah dan berdo’a kepada Allah Subhanallohu wa Ta’ala, tiba-tiba aku melihat seorang pemuda yang masih sangat muda usianya memakai pakaian ihram menyendiri di tempat penyendiriannya tidak mengucap talbiyah dan tidak berdzikir mengingat Allah Subhanallohu wa Ta’ala seperti orang-orang lainnya. Aku mendatanginya dan bertanya mengapa dia tidak mengucap talbiyah?

Kemudian dia menjawab,’Apakah talbiyah mencukupi bagiku, sedangkan aku sudah berbuat dosa dengan terang-terangan. Demi Allah! Aku khawatir bila aku mengatakan “labbaik” maka malaikat menjawab padaku,’tiada labbaik dan tiada kebahagian bagimu’. Lalu aku pulang dengan membawa dosa besar’.

Aku berkata kepadanya,’Sesungguhnya kamu memanggil Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.

Dia pun bertanya,’Apakah kamu menyuruhku untuk mengucap talbiyah?’

Aku menjawab,’Ya’

Kemudian dia berbaring di atas tanah, meletakkan salah satu pipinya ke tanah, mengambil batu dan meletakkannya ke pipi yang lain dan mencucurkan air matanya, seraya berucap, ‘labbaik allohumma labbaik’ Sungguh telah kutundukkan diriku kepadaMU, badan telah kuhempaskan di hadapanMU’.

Lalu aku melihatnya lagi di Mina dalam keadaan menangis, dia berkata,’Ya Allah Subhanallohu wa Ta’ala Sesungguhnya orang-orang telah menyembelih kurban dan mendekatkan diri kepadaMU, sedangkan aku tidak punya sesuatu yang bisa kugunakan untuk mendekatkan diri kepadaMU kecuali diriku sendiri, maka terimalah pengorbanan dariku’.

Kemudian dia pingsan dan tersungkur mati. Aku pun memohon kepada Allah Subhanallohu wa Ta’ala agar Dia berkenan menerimanya.

(Dikutip dari: Asybaluna Al-‘Ulama, Oleh Muhammad Shulthon)

sumber

http://mediamuslim.wordpress.com

imam sfyafi’i

Riwayat Imam Syafi’i (muqaddimah)

Oleh Ustaz Syed Hasan Alatas

Imam Syafi’i salah seorang Ulama Fiqih (hukum Islam) yang terkenal dan mempunyai pengikut yang ramai di Negara-Negara yang ramai penduduk Islamnya terutama di Indonesia dan Malaysia. Beliau di lahirkan pada tahun 150 H di Gaza. Imam Syafi’i menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengkaji hal-hal yang berkenaan Hukum Islam.

Disamping itu beliau juga salah seorang ahli sya’ir yang terkenal dengan sya’irnya yang indah dan berisi. Syairnya-syairnya ibarat untaian mutiara yang gemerlapan, penuh dengan ungkapan-ungkapan balaghah, hikmah, dan nasihat yang bernilai tinggi. Imam Syafi’i pencinta Ilmu Pengetahuan semenjak kecil lagi. Beliau biasa mengkhatamkan al-Quran sebanyak enam puluh kali, terutama dalam bulan Ramadhan, terutama dibacanya ketika sholat. Imam Syafi’i seorang yang suka berderma dari apapun harta yang dimilikinya.

Hidupnya sangat sederhana terutama dalam makan dan minum. Beliau tidak pernah makan kenyang semenjak usia enam belas tahun. Karena kekenyangan akan menambah berat badan, mengeraskan hati, menumpulkan otak, membawa mengantuk dan malas beribadah, demikian kata Imam Syafi’i.

Imam Syafi’i wafat selepas magrib malam Juma’at, akhir bulan Rajab, dan jenazah beliau dikebumikan pada hari Jum’at, tahun 204 Hijriyah di Mesir. Ramai Ulama yang mengakui kejujuran, keadilan, kezuhudan, kewara’an, dan akhlak yang mulia yang dimiliki oleh Imam Syafi’i. Selama hidupnya penuh dengan petunjuk dengan sifat taqwanya yang tinggi dan hidupnya jauh dari kesesatan dan kejahatan.

Beliau jujur dalam Hukum-Hukumnya, berlandaskan Kebenaran dan Keadilan Allah s.w.t. yang disanjung tinggi. Hukum-Hukumnya ibarat bintang-gemintang yang menjadi perhiasan angkasa raya. Beliau suka merantau untuk menambah Ilmu Pengetahuan dan mengamalkannya untuk kepentingan Ummat. Untaian mutiara pesanan yang ditinggalnya sangatlah banyak antara lain beliau berpesan:

* Pergilah (merantaulah) dengan penuh keyakinan, niscaya akan engkau temui lima kegunaan, yaitu Ilmu Pengetahuan, Adab, pendapatan, menghilangkan kesedihan, mengagungkan jiwa, dan persahabatan.
* Sungguh aku melihat air yang tergenang membawa bau yang tidak sedap. Jika ia terus mengalir maka air itu akan kelihatan bening dan sehat untuk diminum. Jika engkau biarkan air itu tergenang maka ia akan membusuk.
* Singa hutan dapat menerkam mangsanya, setelah ia meninggalkan sarangnya. Anak panah yang tajam tak akan mengenai sasarannya, jika tidak meninggalkan busurnya.
* Emas bagaikan debu, sebelum ditambang. Pohon cendana yang tetancap ditempatnya, tak ubah seumpama kayu bakar (kayu api).
* Jika engkau tinggalkan tempat kelahirnmu, engkau akan menemui derajat yang mulia ditempat yang baru, dan engkau bagaikan emas sudah terangkat dari tempatnya.

Masa kecil beliau

Semenjak kecil Syafi’i telah hafal al-Quran dan banyak dari Hadis Nabi s.a.w. Dimana beliau mendengar ada orang Alim, maka beliau segera menemuinya untuk menimba Ilmu Pengetahuan. Ketika berusia masih kecil yaitu 14 tahun, beliau menceritakan hasratnya kepada ibundanya yang sangat dikasihinya tentang keinginannya untuk menambahkan Ilmu Pengetahuan dengan cara merantau.

Mulanya Ibundanya berat untuk melepaskan Syafi’i, karena beliaulah seorang yang menjadi harapan ibunya untuk menjaganya di hari tuanya. Demi ketaatan dan kecintaan Syafi’i kepada Ibundanya, maka mulanya beliau terpaksa membatalkan keinginannya itu, demi kasih sayangnya kepada ibunya itu. Meskipun demikian akhirnya ibundanya mengizinkan Syafi’i untuk memenuhi hajatnya untuk menambah Ilmu Pengetahuan.

Sebelumnya melepaskan Syafi’i berangkat, maka ibundanya mendo’akannya
:”Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh Alam ! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keredhaanMu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut Ilmu Pengetahuan peninggalan Pesuruhmu. Oleh karena itu aku bermohon kepadaMu ya Allah permudahkanlah urusannya. Peliharakanlah keselamatanNya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan Ilmu Pengetahuan yang berguna, amin!”

Selesainya berdo’a ibundanya memeluk Syafi’i kecil dengan penuh kasih sayang dan dengan linangan air mata karena sedih untuk berpisah. Sambil berkata: “Pergilah anakku Allah bersamamu !Insya-Allah engkau akan menjadi bintang Ilmu yang paling gemerlapan dikemudian hari. Pergilah sekarang karena ibu telah redha melepaskanmu. Ingatlah bahwa Allah itulah sebaik-baik tempat untuk memohon perlindungan ! Selepas ibunya mendo’akan Syafi’i, maka Syafi’i mencium tangan ibunya dan mengucapkan selamat tinggal kepada ibunya.

Sambil meninggalkan ibunda yang sangat dikasihinya dengan hati yang pilu Syafi’i melambaikan tangan mengucapkan salam selamat tinggal, dan mengharapkan ibundanya senantiasa mendo’akannya untuk kesejahteraan dan keberhasilannya dalam menuntut Ilmu Pengetahuan yang berguna.

Oleh karena kehidupannya yang sangat miskin, maka Syafi’i berangkat dengan tidak membawa perbekalan uang, kecuali dengan berbekalkan do’a ibunya dan cita-cita yang teguh untuk menambah Ilmu Pengetahuan sambil bertawakkal kepada Allah s.w.t.

Imam Syafi’i mengisahkan perpisahan dengan ibunya dengan mengatakan: “Sesekali aku menoleh kebelakang untuk melambaikan tangan kepada ibuku. Dia masih terjegat diluar pekarangan rumah sambil memperhatikan aku. Lama-kelamaan wajah ibu menjadi samar ditelan kabus pagi. Aku meninggalkan kota Makkah yang penuh barkah, tanpa membawa sedikitpun bekalan uang, apa yang menjadi bekalan bagi diriku hanyalah Iman yang teguh dan hati yang penuh tawakkal kepada Allah s.w.t.serta do’a restu ibuku sahaja. Aku serahkan diriku kepada Allah seru sekalian
Alam.”

imam syafi’i sewaktu berguru dengan imam malik

Betapa gembiranya Imam Malik karena mendapat seorang murid yang cerdas dan bijak seperti Syaf’i. Syaf’i semenjak kecil bukan saja telah hapal
seluruh isi al-Quran dan ribuan hadis Nabi s.a.w. malah beliau juga telah
hapal seluruh isi kitab Hadis Muwatta’ karangan Imam Malik bin
Anas, sebelumnya Syaafi’i bertemu dengan Imam Malik. Imam Syafi’i membagi malam kepada tiga bahagian yaitu:

* Sepertiga untuk Ilmu Pengetahuan
* Sepertiga untuk sholat
* Sepertiga untuk tidur

Rabi’ menerangkan bahwa Imam Syafi’i setiap hari menamatkan al-Quran
sekali, tetapi dalam bulan Ramadhan seluruhnya enam puluh kali, dan
semuanya dibaca ketika menunaikan ibadah Sholat. Imam Syafi’i sendiri
menerangkan bahwa beliau belum pernah bersumpah seumur hidupnya, baik ketika membenarkan sesuatu ataupun mendustakan sesuatu. Pernah disatu ketika ada orang bertanyakan sesuatu masaalah kepada beliau. Ketika itu Imam Syafi’i mendiamkan diri sejenak tidak langsung menjawabnya. Ketika beliau disoal mengapa berbuat demikian, maka Imam Syafi’i menjelaskan:

“Aku menunggu terlebih dahulu, sehingga aku mengetahui, mana yang lebih
baik aku diam ataupun menjawab pertanyaanmu.”

Ini menunjukkan bahwa Imam Syafi’i adalah orang yang sangat teliti dalam memberikan sesuatu fatwa, kepada seseorang yang bertanyakan sesuatu masaalah semasa.

Imam Syafi’i pernah mengatakan: “Pada suatu hari aku tidak punya uang sesenpun, sedangkan aku ingin benar menuntut Ilmu. Lalu aku pergi bekerja disebuah Dewan untuk mendapat sedikit belanja”. Ini menunjukkan bahwa Imam Syafi’i tidak berdiam diri ketika menemui kesulitan dalam
keuangan, terutama ketika menuntut Ilmu, beliau bersedia bekerja apa saja
yang halal, asalkan saja cita-citanya tercapai.

Imam Ghazali pernah menceritakan bahwa Imam Syafi’i juga adalah seorang Tokoh penting dalam kehidupan Sufi. Ia seorang yang sangat Taqwa tidak ingin bermegah-megahan dalam hal apapun juga. Berkenaan Ilmu Sufi, Imam Syafi’i berkata: “Saya ingin manusia itu mempelajari Ilmu ini, tetapi janganlah menyebut-nyebut namaku, dengan sepatah kata juapun”.

Diantara kata-kata yang bernilai sufi daripada Imam Syafi’i ialah:

* Orang yang zalim kepada dirinya, ialah orang yang merendahkan dirinya kepada orang yang tidak memuliakannya dan orang yang menyukai sesuatu benda yang tidak memberi manfaat kepadanya, begitu juga orang yang menerima sesuatu pujian dari seseorang yang lain yang tidak mengenalnya, dengan sesungguh-sungguhnya.

* Orang yang tidak diutamakan karena Taqwanya, tidaklah termasuk Orang Yang Utama.

* Siasat manusia lebih kejam daripada siasat binatang.

* Jikalau kuketahui bahwa ia dengan itu dapat mengurangi kehormatanku, meskipun aku haus, aku tidak akan meminumnya.

* Diantara tanda-tanda benar dalam Ukhuwah ialah menerima keritikan teman, menutupi aib teman, dan mengampuni kesalahannya.” Demikianlah kata-kata Hikmah dari Imam Syafi’i r.a.

sumber

http://www.shiar-islam.com

rab’ah adawiyah

Jika saja anda tidak mampu berbaik sangka (husnudzon) kepada Allah melalui kemahaindahan sifat-sifatNya, maka berbaiksangkalah kepada Allah karena adanya anugerah mu’amalah Allah yang menyertai anda. Bukankah Allah telah mengembalikan diri anda, melainkan pada kebajikan? Dan bukankah Allah telah melimpahkan kepada anda , melalui pintu anugerahNya?

Husnudzon atau berbaik sangka kepada Allah, merupakan salah satu dasar utama kita membangun hubungan dengan Allah Ta’ala. Banyak hamba-hamba Allah yang menggugat Allah atas taqdir yang diterima dengan rasa pahit, lalu ia menggedor-gedor langitNya, agar dibuka pintu anugerah yang sesuai dengan selera si hamba ini.

Tetapi Ibnu Athaillah as-Sakandaru begitu jeli memandang soal Husnudzon kepada Allah ini, karena banyak orang yang mengalami kesulitan-kesulitan psikhologis ketika harus berbaik sangka kepada Allah terutama jika si hamba Allah ini tertimba takdir yang dirasakan tidak sesuai dengan keinginannya.

Di sinilah kita harus belajar Husnudzon kepada Allah melalui sifat kemaaindahannya atas semua yang telah dilimpahkan kepada kita. Ketika seseorang terhalang untuk meraih apa yang diinginkannya, lalu terganjal di sana, ia protes kepada Allah. Protes ini muncul semata karena si hamba tidak bisa melihat hikmah dan keindahan Sifat Allah yang menyertai kegagalan itu. Padahal kegagalan itu adalah pemberian yang luar biasa, jika kita bisa memahaminya.

Namun untuk memahaminya juga tidak mudah. Oleh sebab itu, si hamba diarahkan, jika gagal memahami kemahaindahan sifat Allah, minimal ia harus memahami melalui husnudzonnya kepada Allah atas anugerah yang selama ini dilimpahkan kepada hamba melalui amaliyah ibadahnya. Bahwa seorang hamba bisa beribadah, bisa berbuat baik, itu semua tidak lepas dari anugerah Allah. Tanpa anugerahNya, kita tidak bisa bekerjasama dengan Allah Ta’ala.

Bahkan Ibnu Athaillah menegaskan, bahwa semua yang terjadi ini, senantiasa kembali demi kebajikan kita semua. , dan segala yang berinteraksi dengan seluruh kehidupan kita sesungguhnya adalah anugerah Ilahi semata.

Kalau kita renungkan sejenak: Kita ini ada di dunia ini karena Dia, dank arena kebaikan dan anugerahNya pula. Kita diwujudkan dari situasi dan kondisi tidak ada, lalu menjadi ada. Kemudian allah masih terus melimpahkan kita dengan kemuliaan, kenikmatan, dan kita dijadikan sebagai hamba beriman. Bahkan harus kita syukuri kita dijadikan sebagai manusia. Coba, seandainya kita ditakdirkn jadi binatang atau batu.

Kategori manusia berhusnudzon kepada Allah itu ada tiga:

Pertama, Husnudzon kepada Allah karena keagungan dan keindahan SifatNya.
Kedua, Husnudzon kepada Allah karena IhsanNya, atau kebajikanNya.
Ketigam, Husnudzon kepada Allah karena dua-duanya. Dan perilaku jiwa demikian ini, lebih sempurna dari kedua hal di atas.

Karena itu Rabiah Adawiyah sampai bersyair:

Cintaku kepadaMu terbagi dua
Cinta Asmara, dan Cinta karena Engkau layak Dicinta
Cinta Asmaraku padaMu, adalah kesibukanku mengingtatMu
Dan mengabaikan hatiku dari selain DiriMu.
Sedang Cinta yang Engkau layak Dicinta
Adalah tersingkapnya tiraiMu untukku
Hingga aku terus memandangmu
Lalu tak ada puja di sana
Tak ada pula di sini bagiku
Tetapi hanya kepadaMu Puja itu
Di sana
Dan disini.

Indah nian kata Rabiah. Semua itu karena Husnudzonnya kepada KekasihNya. Sebab apa saja yang dipandang dari kehidupan ini, tidak lain adah rasa CintaNya, Anugerah Kasih SayangNya kepadanya. Apa saja, dan dimana saja….

sumber www.sufinews.com

Ibrahim Bin Adham

Ibrahim bin Adham atau nama asalnya ialah Abu Ishak Ibrahim bin Adham dilahirkan daripada keluarga bangsawan Arab yang kaya raya. Beliau terkenal sebagai seorang raja Balkh yang sangat luas wilayah kekuasaannya. Ke mana saja pergi, beliau akan diiringi empat puluh bilah pedang emas dan empat batang tongkat kebesaran emas diusung di depan dan belakangnya. Nama beliau berada dalam tinta sejarah daripada seorang raja yang masyhur kepada ahli sufi yang terkenal.

Bermulanya perubahan kehidupan Ibrahim bin Adham apabila pada suatu malam ketika baginda tertidur di bilik istananya, langit-langit di biliknya bergerak seolah-olah ada seseorang yang sedang berjalan di atas atap. Ibrahim terjaga dan berseru: “Siapakah itu?”

“Saya adalah seorang sahabat, untaku hilang, aku sedang mencarinya di atas atap ini.” Terdengar sahutan dari atas.

“Bodoh, tidak ada orang mencari unta di atas atap!” Ibrahim menengkingnya.

“Wahai manusia yang lalai, apakah engkau hendak mencari Allah Subhanahu wata’ala dengan berpakaian sutera dan tidur di alas tilam emas?” Jawab suara itu penuh simbolik.

Kata-kata ini sangat menggetarkan hati Ibrahim. Ia sangat gelisah dan tidak dapat meneruskan tidurnya sehingga pagi. Seperti kebiasaannya, di sebelah siang Ibrahim berada di atas singgahsananya untuk mendengar pengaduan dan masalah rakyat jelata. Tetapi hari itu keadaannya berlainan, dirinya gelisah dan banyak termenung.

Para menteri, pembesar istana dan rakyat yang hadir merasa hairan melihat perubahan yang terjadi dengan tiba-tiba kepada raja mereka.

Tiba-tiba masuk seorang lelaki berwajah menakutkan ke dalam ruangan perjumpaan itu. Tidak seorangpun di antara askar dan pengawal istana yang berani menanyakan sesuatu dan menghalangnya masuk. Kejadian berlaku begitu pantas, semua lidah menjadi kelu. Lelaki itu melangkah ke depan Ibrahim Adham.
“Apakah yang engkau inginkan daripada aku?” Tanya Ibrahim.
“Aku baru sahaja sampai, bagilah aku rehat dulu”, jawab lelaki itu.
“Ini bukan tempat persinggahan kafilah. Ini istanaku. Lagak engkau seperti orang gila saja!” Ibrahim menengking.
“Siapa pemilik sebenar istana ini sebelum engkau?” Tanya lelaki itu.
“Ayahku!” Jawab Ibrahim pendek.
“Sebelum ayahmu?”
“Datukku!”
“Sebelum dia?”
“Datuk kepada datuk-datukku!”
“Ke manakah mereka sekarang ini?“ Tanya lelaki itu.
“Mereka telah meninggalkan dunia ini”, jawab Ibrahim.
“Jika demikian, tidakkah ini sebuah persinggahan yang diduduki oleh seseorang kemudian ditinggalkannya dan diganti oleh yang lain pula?” Kata lelaki itu.

Tersentak juga hati Ibrahim mendengar kata-kata lelaki itu. Belum sempat Ibrahim menjawab, lelaki itu mengundur ke belakang dan tiba-tiba ghaib di tengah orang ramai. Banyak para alim ulama membuat tafsiran sesungguhnya lelaki itu adalah Nabi Khidhir ‘Alaihissalam yang sengaja datang mengetuk hati raja Ibrahim bin Adham yang semakin lalai dengan tipu daya dunia.

Kegelisahan Ibrahim semakin menjadi-jadi sejak kejadian tersebut. Ia dihantui oleh bayangan dan suara lelaki itu sejak peristiwa di istananya. Akhirnya kerana tidak tahan lagi Ibrahim memerintah pengawalnya: “Persiapkan kudaku yang terbaik! Aku hendak pergi berburu. Ya, Allah! Bilakah semua ini akan berakhir?”

Ibrahim bin Adham dan rombongan terus merentasi padang pasir yang luas saujana mata memandangnya. Baginda memacu kudanya begitu laju sehingga akhirnya terpisah dengan rombongan tersebut. Dalam mencari jalan keluar baginda terlihat seekor rusa. Tiba-tiba Ibrahim ghairah hendak memburu rusa itu. Belum sempat berbuat apa-apa rusa itu berkata kepadanya: “Wahai manusia yang lalai, aku disuruh oleh Allah Subhanahu wata’ala memburumu. Engkau tidak dapat menangkapku. Bertaubatlah, untuk inikah engkau diciptakanNya?”

Ibrahim yang di dalam ketakutan itu tiba-tiba terkejut dengan kata-kata itu. Baginda langsung tidak terfikir selama ini untuk apa baginda dicipta ke dunia. Sekarang keyakinan serta keimanannya telah tertanam di dalam dadanya. Seluruh pakaian dan tubuh kudanya basah oleh cucuran air mata penyesalannya selama ini. Dengan sepenuh hati Ibrahim bertaubat kepada Allah Subhanahu wata’ala. Dalam keadaan panas terik itu, baginda meninggalkan kudanya dengan berjalan kaki yang akhirnya baginda bertemu dengan seorang penggembala yang sedang menjaga sekumpulan kambing-kambingnya.

Tiba-tiba Ibrahim meminta keizinan untuk menyerahkan bajunya yang bersulam emas serta topinya yang bertatahkan batu-batu permata yang sangat mahal harganya. Sebaliknya baginda mengenakan pakaian dan topi gembala itu yang diperbuat daripada kulit dan bulu kambing. Gembala kambing itu melihat kelakuan Ibrahim itu dengan penuh kehairanan. Semua malaikat menyaksikan perbuatan Ibrahim itu dengan penuh kekaguman sehingga salah satu malaikat berkata: “Lihat, betapa megahnya kerajaan yang diterima putera Adham sebelum ini, akhirnya telah mencampakkan pakaian dunia yang kotor dan menggantinya dengan jubah kesedaran.”

Dengan berjalan kaki Ibrahim mengembara merentasi gunung dan menyusuri padang pasir yang luas sambil menginsafi dosa-dosa yang pernah dilakukannya. Akhirnya sampailah baginda di sebuah gua. Ibrahim yang dulunya seorang raja yang hebat akhirnya menyendiri dan berkhalwat di dalam gua selama sembilan tahun. Selama di dalam gua itulah Ibrahim betul-betul mengabdikan dirinya kepada Allah Subhanahu wata’ala. Setiap hari Khamis baginda ke pekan bernama Nishapun untuk menjual kayu api. Setelah sembahyang Jumaat baginda pergi membeli roti dengan wang yang diperolehinya. Roti itu separuh diberikan kepada pengemis dan separuh lagi untuk berbuka puasa. Demikianlah yang dilakukannya setiap minggu.

Akhirnya baginda mengambil keputusan keluar dari gua tersebut untuk merantau lagi merentasi padang pasir yang terbentang luas itu. Baginda tidak tahu lagi ke mana hendak ditujui. Setiap kali baginda berhenti di sebuah perkampungan, baginda kumpulkan orang-orang setempat untuk memberitahu betapa kebesaran Allah terhadap hambaNya dan azab yang akan diterima oleh sesiapa yang mengingkarinya. Justeru itu banyaklah

orang yang akrab dengannya dan ada yang menjadi muridnya. Baginda mengharungi padang pasir itu empat belas tahun lamanya. Selama itu pula baginda berdoa dan merendahkan dirinya serta tawaddhu’ kepada Allah Subhanahu wata’ala. Nama Ibrahim pula mula disebut-sebut orang; dari seorang raja berubah menjadi seorang ahli sufi yang merendah diri.
Pernah dalam perjalanannya baginda diuji. Disebabkan kewara’an baginda itu ada seorang kaya datang menemuinya untuk mengambil tabarruk ke atas baginda dengan memberi wang yang sangat banyak kepada Ibrahim. “Terimalah wang ini, semoga berkah”, katanya kepada Ibrahim.

“Aku tidak mahu menerima sesuatupun daripada pengemis”, jawab Ibrahim.

“Tetapi aku adalah seorang yang kaya”, pintas orang kaya orang itu.

“Apakah engkau masih menginginkan kekayaan yang lebih besar daripada apa yang telah engkau miliki sekarang ini?” tanya Ibrahim.

“Ya, kenapa tidak?” Jawabnya ringkas.

“Simpanlah wang ini kembali, bagi aku, engkau adalah ketua para pengemis di sini. Bahkan engkau bukan seorang pengemis lagi tetapi seorang yang sangat miskin dan meminta-minta.” Tegur Ibrahim.

Kata-kata Ibrahim itu membuatkan orang kaya itu tersentak seketika. Penolakan pemberiannya oleh Ibrahim disertai dengan kata-kata yang sinis lagi pedas itu turut meninggalkan kesan yang mendalam kepada dirinya. Dengan peristiwa tersebut orang kaya itu bersyukur kepada Allah kerana pertemuan dengan Ibrahim itu membuatkan dirinya sedar akan tipu daya dunia ini. Beliau lalai dengan nafsu yang tidak pernah cukup daripada apa yang perolehinya selama ini.

Suatu ketika sedang Ibrahim bin Adham menjahit jubah buruknya di tepi sungai Tirgis baginda ditanya oleh sahabatnya: “Engkau telah meninggalkan kemewahan kerajaan yang besar. Tetapi apakah yang engkau telah perolehi sebagai imbalannya?”

Disebabkan soalan yang tidak disangka-sangka itu keluar dari mulut sahabatnya sendiri maka dengan tiba-tiba jarum di tangannya terjatuh ke dalam sungai itu.

Sambil menunjukkan jarinya ke sungai itu Ibrahim berkata, “Kembalikanlah jarumku!”

Tiba-tiba seribu ekor ikan mendongakkan kepalanya ke permukaan air. Masing-masing ikan itu membawa sebatang jarum emas di mulutnya.

Ibrahim berkata: “Aku inginkan jarumku sendiri.”

Seekor ikan kecil yang lemah datang menghantarkan jarum besi kepunyaan Ibrahim di mulutnya.

“Jarum ini adalah salah satu di antara imbalan-imbalan yang ku perolehi, kerana meninggalkan kerajaan Balkh. Sedangkan yang lainnya belum tentu untuk kita, semoga engkau mengerti.” Kata Ibrahim Adham dengan penuh kiasan.

Begitulah kehidupan seorang raja Balkh yang bernama Ibrahim bin Adham yang luas pemerintahannya dan hidup di dalam kemewahan, tetapi akhirnya berkelana menjadi ahli sufi yang terkenal. Baginda menemui Allah Subhanahu wata’ala pada tahun 165H/782M di negeri Persia. Taubat Ibrahim itu merupakan sebuah kisah yang sangat unik bagi umat Islam yang merintis kehidupan yang penuh dengan tipu daya di dunia ini. Wallahu ‘alam.

Dipetik dari Tazkirat al-Aulia karangan Farid ad-Din Attar, Mukhtashar ar-Raudah ar-Rauyyahin Fi Manaqib as-Salihin karangan Abu Mazaya al-Hafiz.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.